Berikut sebuah
kisah yang saya dapatkan dari seorang sahabat yang tidak sepenuhnya saya kenal,
namun dari tulisan yang ia buat, tergambar nyata bahwa sejatinya ia tidak hanya
seorang sahabat, tapi ia adalah saudara kita yang dengan gigihnya mau meluangkan
sedikit waktu untuk melukiskan sebuah kisah yang mengingatkan kita dan menjadi
teladan kita bahwa pernah ada seorang sahabat Rasullullah Saw yang memiliki
cinta abadi untuk Ilahi Rabbi..berikut kisahnya..semoga berkah dan bermanfaat
bagi kita bersama..
Cintamu Abadi
Apa kabar sahabat ?
Tidakkah Allah masih menumbuhkan kuku-kuku jarimu hingga tanganmu perkasa
melakukan banyak hal ? Pada jenak ini, indera pandanganmu masihkah mampu membaca
tulisan saya ini dengan baik ? Udara masih terjaga bukan untuk mengisi penuh
paru-parumu hingga kau bernafas dengan leluasa? Dan jantungmu masihkah
pula berdetak untuk mereguk sisa porsi waktu ? Jika demikian, saya pasti
mendapat jawaban “Alhamdulillah luar biasa” untuk pertanyaan pertama.
Sahabat, pinjam
waktumu sebentar. Bersiaplah untuk sejenak mengalun bersama kisah seseorang.
Insya Allah sebuah kisah cinta, yang mudah-mudahan pesonanya membuat kita
juga menjadi sepertinya. Menjadi seorang pecinta.
Sahabat, hafalkan
dengan baik nama yang mulia ini, meski untuk itu, engkau harus pula bersusah
payah. Bergegaslah mempersiapkan sebuah ruang dalam benak, untuk
mengingatnya. Hingga suatu saat, kau mampu menebar hikmahnya kepada yang lain.
Dan Insya Allah, hal ini adalah ekspresi cintamu, sama seperti tokoh utama pada
kisah berikut. Seorang pecinta.
***
Seorang ksatria
tengah tersenyum. Lembah Badar baru saja usai dari sebuah peperangan. Pekikan
semangat Allah Maha Besar tak lagi terdengar. Senjata saling beradu sudah tak
terjadi. Sebuah kemenangan baru saja tergenggam. Kaum kafir Quraisy beranjak
pulang tanpa kepala yang tegak. Mereka merunduk malu setelah meneguk
sebelanga pahit kekalahan. Tak pernah mereka kira jika manusia-manusia pencinta
Muhammad, lebih memilih darahnya tumpah dibanding melihat Al-Musthafa
terkena seujung kuku senjata. Untuk mereka, hari itu adalah kisah kelam yang
amat sulit terlupa.
Cinta kepada Nabi
yang Mulia menyemerbak di Lembah Badar. Nafas di raga bukanlah apa-apa
dibandingkan keselamatan Al-Amin dan tegaknya Islam yang agung. Seorang ksatria
masih saja tersenyum. Hatinya berbunga, karena Al-Harits bin ‘Amr bin Naufal
meregang nyawa di ujung pedangnya. Ia sungguh senang, bangsawan
sekaligus pemimpin Quraisy pengganggu purnama Madinah itu, kini mati. Hari itu
ia adalah salah satu perindu surga. Hari itu ia adalah salah seorang
sahabat yang membuktikan kecintaannya kepada Rasulullah dengan turut menjadi
pasukan para pemberani. Hari itu, ia adalah seorang ksatria pembela
agama, yang kemudian cintanya abadi. Khubaib bin ‘Ady.
***
Suara Rasulullah
memenuhi udara. Mesjid hening mendengar tuturnya. Semua pandangan berarah pada
satu titik. Di sana, di atas mimbar, sesosok cinta tengah berdiri,
memandang syahdu mereka semua. Dari bibir manisnya terlantunkan sebuah titah.
“Aku, baru saja
didatangi, utusan dari kabilah ‘Udal dan Qarah. Berita tentang Islam telah
sampai kepada mereka. Mereka sungguh berharap orang-orang yang akan membagi cahaya
kebenaran, yang akan menghunjamkan bahwa Allah adalah Esa, yang akan
mengajarkan Islam. Akan ada dari kalian yang terpilih untuk mengemban amanah
itu”
Sesaat, Purnama
Madinah menyapu pandangannya ke setiap penjuru. Para sahabat, tiba-tiba saja
membusungkan dada, dan menegakkan kepala, seperti ingin dilihat Nabi. Setiap dari
mereka berharap bisa dipilih sebagai duta. Padahal, ada beberapa dari sahabat
yang masih terluka karena peperangan Badar.
Melihatnya, Nabi
tersenyum, bahagia berkelindan di sepenuh kalbu. Selanjutnya Nabi menyebut
nama-nama, sepuluh orang terpilih. Ada satu nama di sana.
Nama seorang
ksatria. Khubaib bin ‘Ady.
***
Esoknya,
dihantarkan do’a yang dialunkan, mereka berjalan. Bersemangat mereka
pergi. Sesungguhnya mereka tahu, perjalanan itu tidaklah untuk bersenang. Mereka
tahu, akan ada hal-hal yang tak terduga. Orang-orang kafir dari kabilah yang
mendiami lembah-lembah bisa kapanpun menghadang dan membunuh mereka. Namun,
kecintaan kepada Nabi yang Ummi, keimanan yang bersemayam dalam dada, membuat
mereka berpantang menyurutkan langkah.
Benar saja.
Dari sejarah, kita
tahu ketika mereka sampai di daerah antara ‘Usfan dan Makkah, sebuah
perkampungan dari suku Hudzail yang dikenal dengan nama Banu Lihyan, para
kafir mencium keberadaan mereka. Hampir seratus penduduknya memburu para duta
Rasulullah. Tujuannya tidak lain, membunuh dan membuat para pengikut Rasulullah
itu kembali kepada ajaran nenek moyang Arab. Orang-orang dari suku Hudzail itu
terus membuntuti mereka, beratus anak panah disiapkan.
Sebuah ujian, Allah
berikan kepada para pemberani, didikan Rasulullah. Mereka ditemukan para
penyembah berhala tengah berlindung di sebuah bukit. Riuh rendah, gerombolan
itu mengepung dan berteriak lantang :
“Kami berjanji
tidak akan membunuh kalian, jika kalian turun dan menemui kami”.
“Kami tidak
menerima perlindungan orang kafir “ seru Ashim, yang diamanahi Rasulullah
sebagai pemimpin para utusan.
Mendengar itu,
gerombolan itu menyerbu dan memanah mereka satu persatu. Para pencinta Rasul
dan agama itu roboh. Ada yang luput dari panah dan pembunuhan itu. Tahukah
kalian siapa dia? Ya.. dia adalah ksatria itu. Khubaib bin ‘Ady
***
Khubaib dibawa ke
Makkah. Seperti mengikat unta, ia diiringkan. Dan dengan harga yang mahal,
Khubaib dijual sebagai budak, kepada keluarga Al-Harits. Seluruh keluarga itu,
bersuka cita, pembunuh kepala keluarga, Al-Harits bin ‘Amr bin Naufal di peperangan
Badar, kini berada nyata di tengah mereka. Para wanita bersyair dan
berpesta. Bara dendam semakin berkobar. Darah harus dilunasi dengan darah.
Ksatria pencinta Rasulullah itu tetap bertenang.
Khubaib kemudian
ditawan. Ia dirantai seperti binatang peliharaan di halaman rumah Banu Harits.
Mereka membiarkan Khubaib kedinginan di malam-malam gulita. Mereka
menyaksikan Khubaib di terik panas matahari. Mereka tidak memberi Khubaib makan
dan senang dengan haus yang Khubaib derita.
Suatu hari, seorang
anak kecil merangkak menjumpai Khubaib. Khubaib menyambutnya dengan senyum
tulus, dibiarkannya anak kecil itu bermain-main di paha lelahnya. Mereka
bercengkrama dalam keakraban, hingga wanita dari keluarga Harits berteriak
penuh kekhawatiran. Tahukah apa yang diucapkan Khubaib :
“Tenanglah duhai
ummi, Rasulullah tidak pernah mengajarkan aku membunuh seseorang yang tidak
berdosa. Ia hanya ingin bermain-main.”
Si ibu segera
merengkuh si kecil, dan dengan penuh keheranan ia memandang setangkai besar
anggur yang berada di samping Khubaib. Makkah tidak sedang
musim buah. Seluruh
keluarganya tak ada satupun yang rela memberi makanan. Sedang Khubaib di rantai
besi. Bagaimana mungkin buah ranum itu berada di
sana. Masih dengan
takjub, ia berkata :
“Aku tidak pernah
melihat tawanan sebaik engkau duhai Khubaib. Anggur yang berada di sampingmu
adalah rezeki bertubi yang Allah turunkan kepadamu.”
Khubaib tersenyum.
***
Hari sudah sampai
di pertengahan. Terik matahari, debu-debu yang berterbang garang di antara
jubah indah yang dikenakan para pemuka Quraisy, hingga kilau pasir sahara yang
panas tak terkira, menemani Khubaib yang tengah mendirikan shalat dua rakaat
panjang. Ia masih ingin shalat sebenarnya, menjumpai zat yang
dicinta sepenuh jiwa, Allah. Ia berkata kepada orang-orang Quraisy yang
menyemut memperhatikannya “ Demi Allah, jika bukanlah nanti ada sangkaan kalian
bahwa aku takut mati, niscaya aku menambah shalatku”. Yah, mereka memutuskan
hari itu, Khubaib harus pergi selama-lamanya.
Beberapa dari orang
Quraisy kini tengah bersiap dengan pelepah kurma yang mereka jelmakan serupa
kayu salib raksasa. Tubuh Khubaib kemudian diikat kukuh disana. Khubaib
mengatupkan kelopak mata, mengheningkan semua rasa yang meruah tumpah. Sesaat
ia seperti terbang ke jauh angkasa. Salib pelepah terpancang sudah. Khubaib
membuka mata, hamparan sahara terlihat mempesona. Di bawah sana berpuluh pasang
mata menatapnya lekat. Khubaib memandang tangan mereka, beratus runcing anak panah
tergenggam, beratus senjata tajam terkepal.
Di ketinggian,
dengan sepenuh kalbu, Khubaib mengalunkan syair indah, mengenang cinta manusia
terpilih yang mengirimnya untuk sebuah amanah indah. Merengkuh kembali ingatan
atas sabda dari bibir manis Rasul mulia, syahid di jalan Allah akan menghantar
setiap jiwa bertamasya di surga. Tiba-tiba saja Khubaib merindukan
Al-musthafa. Tiba-tiba saja, ia menginginkan kembali saat-saat ia terpesona
dengan wajah rembulah Rasulullah. Betapa ingin ia menjumpai manusia
sempurna itu untuk menuntaskan utuh kerinduannya. Angin sahara menghantar suara
Khubaib, membuat langit bersuka atas setiap untaian katanya :
Mati bagiku tak
menjadi masalah,
Asalkan ada dalam
ridha dan rahmat Allah,
Dengan jalan apapun kematian itu terjadi.
Asalkan kerinduan
kepada Nya terpenuhi.
Ku berserah kepada
Nya.
Sesuai dengan
takdir dan kehendak Nya.
Semoga rahmat dan
berkah Allah tercurah.
Pada setiap
sobekan daging dan nanah
Ucapan Khubaib
terhenti. Beratus anak panah menghunjam tubuhnya. Pepasir Jan’im tersaput darah
yang tumpah. Tubuh Khubaib perih. Tubuh Khubaib terkoyak. Luka menganga
dimana-mana, namun jiwanya merasakan ketenangan yang tak pernah diresapi
sebelumnya. Suara lesat anak panah terdengar riuh. Tenaga Khubaib melemah,
dengan pandangan yang kian samar, ia menengadah. Ia tak perkasa bertutur lagi.
Hingga doa yang ia pinta, hanya terdengar lirih di lengang udara :
Allahu Rabbi, ku
telah menunaikan tugas dari Rasul Mu,
Maka mohon
disampaikan pula kepadanya,
Tindakan
orang-orang ini terhadap kami.
Sesaat kemudian
tubuh Khubaib sunyi, sesenyap lembah yang ditinggalkan para kuffar setelah puas
melihat nyawanya terhembus dari raga. Angkasa berdengung menyambut ruh
ksatria perindu surga. Khubaib kembali, menuju Allah yang Maha Tinggi.
Tak seberapa lama,
burung-burung bangkai memutari tubuh Khubaib yang masih mengucurkan darah.
Berombongan mereka terbang datang dari kejauhan. Namun, Allah mencintai mu
wahai Khubaib. Dengan cinta yang paling berkilau menyala. Dengan rahmat Nya,
tak satupun burung pelahap bangkai dan nanah itu menyentuh tubuhmu yang dipenuhi panah. Satu
persatu burung bangkai menghambur pergi, mengepak sayap terbang teramat jauh.
Tubuhmu semerbak wahai Khubaib, hingga mereka malu dan tak mampu menyentuh
meski hanya setipis kulit.
Allah mengabadikan
cinta Khubaib. Doa Khubaib sebelum syahid dikabulkan. Kerinduan Khubaib saat
akan dibunuh, sampai juga kepada Rasulullah di Madinah. Rasulullah
merasakan sesuatu yang tak biasanya, sambil tertunduk ia terkenang seseorang
yang tak diketahuinya. Ia memohon petunjuk Allah, dan tergambarlah sesosok
tubuh yang melayang-layang di udara. Segera saja Nabi mengutus Miqdad bin ‘Amn
dan Zubair bin Awwam untuk mencari tahu. Sebelum keduanya pergi, suara Al-Amin terdengar
syahdu dan penuh rindu “Paculah kuda kalian seperti kilat, aku sungguh
mengkhawatirkannya”.
Allah mengarahkan
dan memudahkan perjalanan kedua sahabat. Mereka takjub melihat tubuh Khubaib
yang masih utuh. Dalam hening, mereka menurunkan tubuh yang semerbaknya
tidak hilang. Bumi menyambut Khubaib, akhirnya setelah sekian lama menunggu,
bumi mendapat kehormatan untuk merengkuh dan memeluk Khubaib sepenuh
cinta.
Kisah Khubaib
berakhir di sana, namun di hati para perindu surga, Khubaib tetaplah hidup,
menggelorakan cinta yang tiada pernah berakhir. Cinta yang abadi.
***
Sahabat, kadang
saya senang berandai-andai. Andai Purnama Madinah itu bisa saya temui sekarang,
andai Al-Musthafa itu mampu saya hubungi melalui telepon, andai manusia
berparas rembulan itu bisa saya kirimi pesan singkat sms. Satu hal yang ingin
saya sampaikan kepadanya, “Meski tidak sekemilau cintanya Khubaib, meski
tidak sebenderang cinta Khubaib, tidak seberdenyar cinta Khubaib, tidak seabadi
cinta Khubaib, perkenankanlah saya mencintaimu wahai kekasih yang ummi,
dengan sebentuk cinta yang sederhana, dengan cinta yang tertatih ringkih,
dengan cinta yang lahir dari hati yang kadang buruk wujudnya”.